JazzQual's Adv

Jumat, 25 Oktober 2013

Enjoy Bali - October 2013

Ladies and Gentleman,,
Allow me to show you my original 'Jeprets' when I was in Bali in October 2013.

Enjoy...


Arraz Negro ~ El Kabron
 
Paella De Marisco ~ El Kabron

Sunset at El Kabron

Purple Flower at Bu Oka's

Enjoy in Padang-Padang Beach

Let's Surf ~ Padang-Padang Beach

Padang - Padang Bech

Becak Asmara ~ Petitenget, Seminyak

1 Miau Tai and 3 San Fransisco ~ El Kabron

Sunset at The W

Nasi Campur ~ Warung Made

Sabtu, 19 Oktober 2013

Bali Travelling - "Anjinglah, Pecah Kali Pun!"

Hidup itu harus dinikmati!
Pergi ke Bali untuk kesekian kali.
Happy-happy lagi.
Lebih gila, ceria, dan lebih FREE!


Begini ceritanya,
Waktu itu ada 7 orang gila, termasuk saya di dalamnya, mendarat di bandara Internasional Ngurah Rai. Kebetulan kami mendarat beberapa hari setelah moment bergengsi di dunia yaitu KTT APEC yang diselenggarakan di Bali telah usai. So, setidaknya 'hits'-nya masih berasa walau sedikit.
Tidak butuh waktu lama bagi kami mendapatkan kendaraan untuk kami bisa mengarungi pulau penuh history ini. Ya, sebelum anda semua bertanya, saya beritahu sekarang, bahwa pada akhirnya kami 'habis di jalan'. But, wait a minute, bukan berarti kami kehabisan fun di sana.
Mobil dengan fasilitas musik kelas papan atas ini dikemudikan oleh saya, yang tentunya juga orang gila.
Lalu, ketujuh orang gila ini, termasuk saya, memutuskan untuk mengunjungi hotel mewah kami yang penuh kejutan pada kesan pertama sampai. Tidak perlu saya ungkapkan nama hotel kami tersebut demi menjaga ke-HITS-an kami.
Sesampainya kami di hotel mewah yang hanya 2 menit dari pantai dengan berjalan kaki, ternyata kami masih terlalu dini untuk Check-In. Ya, dengan adanya kata 'terlalu' pada kalimat sebelumnya, itu berarti kami BELUM BOLEH menikmati hotel mewah itu. Lalu kami memutuskan untuk berjalan-jalan sambil menikmati udara Bali yang mahal. Sempat kami berjalan tanpa arah, akhirnya kami putar arah dan singgah di Cafe Marzano. FYI, cafe ini tidak sama dengan Resto Pizza Italy yang di Mall Kelapa Gading itu.
Lalu kami menghabiskan waktu di Cafe tersebut hingga waktu yang ditentukan pihak hotel agar kami boleh Check-In. Hingga saat itu tiba, kami ke hotel, Check-In, memindahkan barang-barang bawaan kami yang simple dan ringkas itu ke kamar. Lalu, kami menghabiskan waktu di hotel tersebut dengan melakukan hal yang luar biasa seru, yaitu tidur, hanya 2 jam. Ya, 2 jam saja!
 


Sepertinya kumpulan orang gila ini, termasuk saya, mulai lapar. Kami memutuskan untuk makan di Nasi Pedas Bu Andhika. Ya, sesuai namanya masakannya super pedas.
 
 
Setelah menguras keringat karena kepedasan, lalu kami beranjak ke Pantai Kuta untuk melihat sunset bersama ribuan manusia lainnya.


 


Sebelum sampai di Pantai sejuta umat tersebut, hampir saja saya terlupa mengatakan hal yang kurang penting ini, kami mengunjungi KRISNA untuk membeli hal-hal yang sepertinya tidak jelas. Di pantai, kami benar-benar gila. Berfoto, acting lari dan lompat, tertawa seperti orang gila, itulah yang kami lakukan, tanpa peduli orang sekitar kami. Tak pelak, kami pun jadi bahan tontonan.
 
 
 
 
Balada sepiring berdua dimulai di sini. Dimulai ketika orang-orang gila ini telah kelelahan foto-foto di Pantai Kuta, tertawa, berjalan menyusuri jalanan Kuta demi mencari Chatime, dan akhirnya sampai di Flap Japs.
 
 
Tunggu, mungkin banyak dari anda semua bertanya "Kenapa disebut Orang Gila?!".
Simple, sebenarnya semua orang gila ini adalah bos. Ada bos dari perusahaan minyak Indonesia yang pernah masuk Fortune X-Hundreds (lupa), ada bos dari perusahaan alat berat, bos dari pengelola kapal ke angkasa, bos perusahaan minuman bersoda, auditor terkemuka, pejabat kementerian, serta saya sendiri adalah bos untuk diri saya sendiri. Ya, begitulah kira-kira. Untuk menghindari kesan tinggi hati, maka saya lebih suka menggunakan frasa "Orang Gila". Beside, Orang Gila itu biasanya selalu tau cara membuat dirinya senang tanpa peduli orang sekitar. Remember, having fun and stop caring other things to much are best way of life.
Sudah! Sudah! Saya lanjutkan cerita tidak penting saya.
Merasa kenyang dengan pancake dan waffle yang dibagi-bagi, ketujuh bos gila ini, termasuk saya, akhirnya kembali ke hotel mewah yang lokasi terletak di Legian.
Travelling ke Bali tidak resmi jika tidak menikmati dentuman musik medley pengiring joget di tempat dengan lampu yang bewarna-warni. Ketujuh orang gila ini menikmati dentuman musik tersebut dengan caranya masing-masing baik dengan sekedar menggoyangkan kepala, mengangkat tangan ke atas, ikut bernyanyi, atau bahkan dengan tertidur.
Untuk menjaga nama baik, sebut saja nama tempatnya SKY GARDEN. Di tempat ini anda akan merasa terang walau minim penerangan, anda akan merasa kesepian di tengah hiruk pikuk, anda akan merasa ramai di tengah kelamnya masalah hidup, anda akan merasa haus, dan anda akan merasa bebas lepas bagai kuda liar yang terlepas dari kekang di padang rumput yang hijau.
Sebentar, saya mau bicara sama diri saya sendiri, "Anjing! Sok puitis banget lu Cep!".
Allright then,
 
Tidak terasa 3 jam berlalu, tidak berapa lama lagi ayam akan berkokok. Kami memasuki 'Jam-Jam Kritis'. Kami menikmati 'Masa-masa kejayaan'. Kami seolah berasa muda kembali, seolah berteriak "Berasa anak gadis lagi, aku pernah cantik!!!". Saya paham betul bahwa Life is so Un-fvckin-fair, namun rasanya seperti ingin memotivasi seseorang dengan meneriakkan "Smile, Keep It" atau rasanya seperti ingin menyanyikan "Bilang saja OK" berulang kali. Susah memang 'mencoba mengerti' paragraf yang satu ini. "Oh Bali!!! 'I miss you so badly'!"

 
Tidak terasa sudah sampai di hotel mewah lagi. Di lubang telinga seolah masih berbunyi dentuman musik. Perut bergejolak. Kepala serasa berputar. Sudahlah, saya tidak perlu lebay di sini! Tidak perlu saya katakan bahwa di sini saya berulang kali throw-up.
Malam berlalu, pagi datang. Maaf, bukan pagi, tapi siang. Kami harus berburu babi hari ini. Ya, maksud saya daging babi. Kami orang gila yang selalu lapar, kami harus segera makan. Sekali lagi, makan dan berbagi. Singkat cerita, kami sampai di tempat makan paling babi se-Bali, Naughty Nuri's Warung. Bayangkan, cewek seksi berkepala babi digantung di tengah restoran ini menemani orang makan. Babi kali kan?!



 
 
 

Saya dan teman-teman saya yang bos juga gila, setelah kenyang, akhirnya memutuskan untuk ke Pantai Padang-Padang. Di pantai ini, semua menunjukkan kebolehannya dalam berfoto-ria. Sekedar informasi, teman-teman saya yang gila-gila ini paling jago dalam hal foto-foto dan 'Check-In'. Begitu tombol shutter camera sudah ditekan, lakukan quick check, maka kalimat berikut akan keluar, "Anjing, pecah kali woi!". Kalimat tersebut akan menjadi sangat familiar bagi kami sejak saat itu. Nah, kini ada semua mengerti kenapa judul blog saya demikian.
 



 

 
Lalu kami, kumpulan bos gila, beranjak dari Pantai Padang-Padang, menyudahi nikmatnya pantai yang indah. Entah kenapa dan bagaimana, bos perminyakan yang satu itu langsung berteriak histeris ketika melihat papan El-Kabron, dan seketika itu juga, bos-bos gila lainnya setuju untuk ke sana. Saya sebagai bos atas diri sendiri dan sebagai supir paling hits, langsung mengendalikan mobil full-music kami menuju tempat yang digadang-gadang sebagai salah satu dari 6 tempat hits di Pulau Dewata.

Hasilnya, kami gagal.
Kami 'diusir' secara halus oleh pegawai Beach Club ala Spanyol yang super sombong yang berdiri di pintu masuk ibarat penjaga klub malam yang berasal dari Ambon. Dimulai dari diskusi 'Bla-Bla' hingga 'Bli-Bli', akhirnya kami memutuskan untuk menyerah dan pulang ke hotel mewah. Di jalan, kami melakukan perang email dan telepon ke Spanish Beach Club tersebut demi mendapatkan spot ter-akbar yang disebut 'Golden Spot' untuk 2 hari mendatang, walaupun kami harus 'mengoyakkan' banyak uang untuk itu. Dalam perjalanan yang penuh amarah, luapan kekecewaan, hingga umpatan karena 'diusir', sekali lagi orang-orang gila ini teriak "Finns!!!" begitu melihat papan iklan Finn's Beach Club yang sangat megah itu. FYI, Finn's ini pun termasuk salah satu dari 6 tempat ter-hits di Bali. Sekali lagi pula, saya sebagai supir yang hits langsung mengendalikan mobil kami menuju tempat tersebut. Hasilnya, kami berhasil. Maksudnya, kami berhasil malu terhadap supir-supir yang sedang menunggu bos-bos mereka. Kenapa malu? Intinya mirip-mirip lah dengan El-Kabron tadi. Sudah, bagian yang ini tidak perlu diceritakan demi menghindari tercorengnya ke-bos-an dan ke-hits-an kami. Kisah kasih kami habis terbuang di jalan kali ini.

 
Bagi anda, saudara-saudara saya yang suka traveling (ke tempat hits), saya mau kasih sedikit tips. Pertama, lakukan reservasi! Kedua, gunakan email kantor yang nama perusahaannya sangat disegani, kalau perlu gunakan nama pejabat! Ketiga, jangan lakukan sekali reservasi saja, kalau bisa berkali-kali! Keempat, menabunglah selagi bisa sebelum ke tempat seperti ini.
Sekali medayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitulah kira-kira ajaran yang kami pegang teguh. Maka, karena GWK berada sejalan dengan semua yang kami lalu hari ini, maka kami mampir ke GWK. Ya, saya pribadi hitungannya hanya mampir.
Dalam perjalanan pulang, walau kecewa, kami masih bisa tetap tertawa. Dalam kemacetan, kami tetap tertawa. Dalam ketidakjelasan jalan yang diarahkan GPS hingga menerobos jalanan Off Road, ladang dan hutan, kami pun tetap tertawa. "Ini semua gara-gara Eilfakinkabroun", begitulah lisan yang malang melintang di dalam mobil.
Setelah melewati jalanan berlubang, berbatu, penuh ilalang, gelap dan mistis, kami akhirnya sampai di Ayana resort dimana RockBar berada. RockBar pun termasuk salah satu tempat terhits di Bali. Sepertinya mobil bang Simorangkir telah terluka melewati jalanan yang kami lalu. Saya ragu, mungkin knalpotnya yang sangar itu sudah terluka ibarat usai berperang. Sudahlah, yang penting bensin sudah diisi dan kami sudah sampai di RockBar, duka kami pun terobati.

 
Ya, kami berhasil masuk ke dalam. Luar biasanya, kami diantar ke RockBar dengan menggunakan kereta gantung ditemani api obor yang hangat dan suara ombak yang mengamuk menghantam batu karang yang besar. Amarah ombak yang indah itu seakan meneriakkan "Eilfakinkabroun!", namun terdengar nikmat. Ke tempat ini, saudara-saudari sekalian jangan memesan Es Teh Manis, karena secara beban Expense Account-nya sama dengan beban makan 4 kali Nasi Pedas Bu Andhika. Pesan saja yang aneh-aneh. Ya, mau tak mau dompet anda semua harus koyak-maribak. Walau begitu, tak mengapa, yang penting kami semua bisa 'Move-On' dari 'pengusiran' yang sebelumnya terjadi.
 
 
Day 3. Selagi yang lain masih tidur, saya berjalan dari hotel ke pantai yang kira-kira hanya berjarak 2 menit untuk menikmati udara Bali yang mahal ini. Pemandangan di sini tak kalah bagus dengan yang lain. Banyak pelancong asing belajar surf di pantai ini. Sambil mengadu caffein dan asap, saya melihat-lihat pasir, kepiting kecil yang bersembunyian di lubang pasir, para surfer dan para gigolo lokal yang mencoba mengganggu pelancong wanita asing. Kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah tidak membawa kamera pada saat seperti ini.
Masih di Day 3, seperti biasa, kami kelaparan lagi. Kami memutuskan untuk makan di Warung Made. Balada keromantisan sepiring berdua kembali terjadi. Percaya atau tidak, kami merasa kenyang.
 
 
 
Lalu, kami kembali melakukan ketidak-jelasan, melakukan kegilaan, yaitu jalan-jalan tidak jelas menghabiskan waktu dan bensin demi mencari-cari benda-benda seksi sambil meributkan rute perjalanan. Lewati kemacetan, lewati sawah yang indah, dan melewati banyak lokasi pengrajin akhirnya kami sampai di tempat yang namanya Ubud. Demi tercapainya tujuan - visi - misi ke Ubud, kami mendatangi Warung Babi Guling Bu Oka. Tempat makan ini juga termasuk tempat makan paling babi se-Bali. Kulit babi goreng buatan Bu Oka ini rasanya 'Pecah Kali!'.
 
 
 



 

Setelah itu, kami ke Potato Head untuk menjalankan ritual 'Check-In'. Guess what, antriannya seperti antrian masuk Dunia Fantasy ketika liburan lebaran dan sedang ada promo.
 
 
Dengan penuh kebijaksanaan, kami mencoba pindah ke W (baca: dabel-yu), diantar dengan menggunakan semacam Caddy-Car ke dalamnya. Pemadangan di sini luar biasa dan pelayanannya pun baik sekali. Kami sempat merasakan sunset di sini. Teman-teman saya, bos-bos yang saya sebut gila itu, benar-benar gila di tempat ini. Mereka tergila-gila foto tanpa malu dilihat orang sekitar. Mereka teriak sambil berfoto, lompat, dan lain sebagainya.
 
 
 

 


 
 
 
 
Sudah merasa cukup dengan indahnya sunset di W dan sudah puas berfoto-ria, orang-orang gila ini kembali merasa lapar. Demi terjadinya keseimbangan inflasi, maka kami memutuskan kembali makan di Nasi Pedas Bu Andhika. Kebijakan moneter yang kami ambil dengan makan di Nasi Pedas Bu Andhika adalah untuk menanggulangi efek kebijakan Operasi Pasar Terbuka yang akan kami lakukan di spot-spot berikutnya, seperti issue sementara ke El Kabron Beach Club. Lalu kami langsung belanja oleh-oleh di sebelah Nasi Pedas Bu Andhika, juga di Krisna. Kembali orang-orang gila ini belanja dengan gila dan tidak jelas sehingga duit mereka 'koyak' lagi.
Setelah menjadi 'Gift Hunter', kini orang-orang gila ini menjadi 'BOUNTY hunter'. Di sini, di Bounty, suasana sangat meriah sekaligus sangat bodoh. Sepertinya, masing-masing pribadi di Kapal Bounty ini sudah kehilangan kendali, ibarat Kapal tanpa nahkoda. Susah untuk mencerna beat dan irama di kapal yang satu ini, tapi tetap saja, orang-orang yang di dalamnya sudah gila semua. Sudah sudah sudah! Cerita di sini di-skip saja. Yang jelas, di tempat ini, di sesi ini, yang paling profesional menjadi 'BOUNTY hunter' justru bukan laki-laki. Yap, banyak 'hadiah tidak jelas di sini', hadiah menjijikkan bagi kaum Adam.
 
Sebelum, malam di Day-3 ini berakhir, sebelum tidur saya terngiang iklan Daktarin, "Daaagghh JAMUR!"
Akhirnya, tanpa terasa sampailah di hari keempat, hari terakhir bagi kami untuk menggila di Bali sebelum kembali ke Jakarta melakukan aktifitas sebagai bos. Karena kami semua baru tidur ketika ayam telah berkokok, maka kami pun bangun sudah sangat siang. Yang ada dalam pikiran kami adalah "Today is the day of vengeance to EilfakinKabroun". Namun sebelum balas dendam, kami ke Karma Kandara untuk meyakinkan diri bahwa kami adalah orang kaya. Di tempat ini, yang paling banyak dipanggil adalah 'Anjing'. Ketika orang-orang gila ini melihat foto-foto mereka, langsung terucap, "Anjing! Anjing! Anjing! Pecah kali pun!". Memang, sebagai fotografer gadungan, saya setuju bahwa foto-foto di sini banyak yang 'Pecah' (baca: keren!), foto-foto di sini yang paling senang saya edit.
 
 
 
 


 
 
 
 
 
Lalu, detik-detik menegangkan akhirnya tiba. Kami tiba di Beach Club ala Spanyol, El-Kabron. Salah satu tempat ter-hits di Bali, tempat yang meng-validasi bahwa kami adalah orang kaya. Berbekal email dari perusahaan minyak dalam negeri yang pernah masuk Fortune X-Hundreds (lupa), kami berhasil menikmati Golden Spot di ElKabron. Dengan cerutu bali, 3 kamera DSLR lengkap dengan lensa mahal-nya, sun-glasses, serta masing-masing gadget yang canggih, kami berhasil memecahkan hari yang cerah di Day-4 ini. Penantian kami berujung Happy-Ending. Balas dendam kami terasa sedap dan manis. Sang supervisor, yang super sombong, yang berkacamata mirip Sammy Simorangkir, berhasil kami pukul telak ibarat pertandingan bola yang mempercundangi tim lawan dengan skor 3-0 di kandang mereka sendiri. Ibarat mendapat durian runtuh yang lansung tersaji menjadi Pancake Duren, begitulah kira-kira senangnya orang-orang gila ini, termasuk saya. Special Thanx to Alex Haryanto, yang memberikan banyak masukan bagi kami atas sajian makanan dan minuman ala Spanyol itu.



 

 
 
 
 

 
Walaupun saya curiga kanvas kopling mobil kami sudah mulai aus, perisai ban belakang kiri agak lepas, power window jadi 'blong', klakson jadi macet, dan bensin pas tidak ada lebihnya, kami benar-bener mendapatkan great adventure. Kami menikmati hari-hari di Bali. Thanx Bang Rudy!
Bali, my new delusional illusions, new sense of Jazz...!
I feel so lucky!
 
Next-nya, kemana guys! Europe kan???