JazzQual's Adv

Selasa, 07 Oktober 2014

Waktu Itu di Dieng, Wonosobo

Waktu itu,
Saya tidak bisa berjanji ikut ke Wonosobo.
Saya tidak bisa berangkat di hari pertama.
Saya berburu motor dan berburu promo.
Saya masih ragu-ragu untuk ikut serta.



Waktu itu,
Akhirnya pagi-pagi ku bersamanya memilih tiket murah.
Dihadapkan dengan calo-calo yang penuh pemalsuan kata.
Masih bertanya-tanya, "Berangkat kah kita?"
Hilangkan curiga, akhirnya kami tinggalkan Jakarta.



Waktu itu,
Perjalanan terasa tidak berkesudahan.
Menikmati makanan di setiap pemberhentian.
Khawatir akan tertahan lama di jalan.
Kami berangkat di hari setelah Lebaran.



Waktu itu,
Kami sampai di Terminal Wonosobo di terik hari.
Badan letih tapi rasa senang dan tenang di hati.
Udara terasa lebih segar  di sini.
Ku bertualang kini ada yang menemani.



Waktu itu,
Beruntung dan bersyukur kami setiap hari
Disuguhi makan dan minum dari pagi hingga malam hari
Dipinjami kendaraan untuk kami mendaki
Menginap dan merepotkan si Mbah, kami tidak enak hati.


Waktu itu,
Dinginnya Dieng menusuk tulang.
Hampir saya percaya bahwa kami akan menginap di gudang.
Setiap kali sampai di tujuan pasti ada saat kami semua terpisah.
Tantangan jalan yang luar biasa padat bikin pasrah.




Waktu itu,
Semua kami memaksakan diri untuk terbangun jam tiga.
Kami ke puncak Sikunir dengan ribuan manusia lainnya.
Berbaris memancang demi melihat mentari muncul di timur dunia.
Dieng, Negeri di Atas Awan, tempat kami bersama-sama terpesona.



Waktu itu,
Mentari benar-benar sudah di atas kepala.
Terik sinarnya sudah mulai menusuk raga.
Tapi tetap kami bisa menikmati segarnya udara.
Kami masih siap untuk menikmati keindahan lainnya.



Waktu itu,
Kami kembali dari Dieng ke Wonosobo dengan raga letih.
Terasa perjalanan sangat panjang tidak ada akhirnya.
Jalanan yang sangat padat seolah siap membunuh dengan keji.
Tapi kami lega bisa diayomi oleh keluarga besar yang sederhana dan baik hati.



Waktu itu,
Saya sulit percaya bahwa masih ada orang baik di dunia.
Tapi ternyata perbedaan keyakinan bukan menjadi kuncinya.
Sebuah keluarga besar yang sederhana menunjukkan kasih yang luar biasa.
Kami disambut dan diantarkan dengan sangat hangat dan ramah


Waktu itu,
Kami berencana menyudahi liburan dingin kami.
Realita Jakarta sudah menanti dengan pasti.
Tragisnya jalanan karena jembatan Comal runtuh.
Tiga puluh jam di jalan pulang terpaksa harus kami tempuh.

~~~





Demikian sebuah cerita yang waktu itu kami rasakan.
Yang waktu itu kami dari Jakarta ke Wonosobo, Wonosobo ke Dieng, hingga kembali pulang
Yang waktu itu kami menelusuri Telaga Warna, Puncak Sikunir, Candi Arjuna, Kawah Sikidang.
Yang waktu itu disiksa di perjalanan menuju kota Jakarta kami pulang
Yang waktu itu menjalani perjalanan meradang di jalan 30 jam yang panjang.

Yang pasti, waktu itu, kami punya cerita. Cerita untuk diceritakan nanti.



Thanx to:
- Itok Dewa, karena ada itok kita jadi bisa nginap, dimanjain dan dikasi makan sama si Mbah dan keluarga. Mereka semua baik banget.
- Ibu yang punya penginapan di Dieng, karena di dinginnya malam ini kami masih bisa dapat tempat untuk tidur.
- Konco-konco, cucunya Mbah, adiknya Dewak, dan mas nya Dewak karena sudah mau menemani, dan sudah mendengarkan celotehan yang tidak penting dari anak badung kayak saya.
- Thanx to Ocha karena udah nemenin.
- Bang Arman, Ferdi, NatNat, karena sudah ada kesempatan jalan-jalan bareng.


1 komentar:

silahkan comment... ^_^