JazzQual's Adv

Selasa, 14 Juli 2015

Refreshing Para Konsultan

Refreshing Para Konsultan

Perjalanan kami ke Belitung dimulai tanggal 18-April-2015.
Jalan-jalan saya kali ini bersama para konsultan ERP E-Business Suite yang nama/merk-nya akan saya samarkan, sebut saja aplikasi Orekel.
Dengan kompak, kami mengajukan cuti di tanggal yang sama untuk melarikan diri dari Gedung Veteran lantai 8.

Ada yang belum paham arti cuti?!
Cuti adalah istilah MOHON IZIN boleh bolos kerja tapi tetap dibayar, yang mana permohonan tersebut HARUS cuma ada 1 feedback kembali kepada pemohon yaitu "OKE BOLEH". At least, itu bagi saya.

Karena kami jalan-jalan dengan pesawat kebanggaan berlogo burung garuda biru, maka begitu berkumpul di Terminal 2F Soekarno Hatta International Hotel, kami memutuskan untuk ber-selfie-ria.
Banyak selfie yang kami lakukan dengan gadget saya terlihat berhasil, hasilnya bagus dihiasi dengan muka-muka bahagia para konsultan.
Bukan, hasilnya bagus bukan karena saya ber-gadget baru kok, tapi karena kami memang benar-benar senang bisa refresh dan menjauh dari kerjaan yang penuh issue, teori dan ke-absurd-an semata.

Sesampainya di pulau Belitung, kami langsung disambut dengan matahari yang sangat menyilaukan dan sangat menyengat.

Bang Feri, driver sekaligus TourGuide kami, sudah menunggu dengan mobil berkapasitas 15 orang berwarna putih.
Mobilnya bagus sekali dan nyaman.
Kami langsung jalan mencari makanan, tepatnya Mie Atep khas Belitung.

Inilah nikmatnya kalau pakai Paket Tour, terutama di Belitung.
Paket yang kami beli sudah benar-benar komplit hotel, transportasi, beserta makan dan jajan (termasuk kopi dan gorengan).
Oh iya, for your information, kalian harus ingat ini "Belum ke Belitung kalau BELUM NGOPI".
Kami tidak perlu bingung mencari-cari kemana dan kapan harus pergi. Kami juga tidak perlu bingung mencari tempat oleh-oleh yang terpercaya.
Belum lagi, di Belitung, pulau penghasil Batu Satam ini, sangat minim petunjuk jalan.
Bisa dipastikan kalau kami tadinya backpacker-an, kami akan menghabiskan waktu yang sia-sia untuk mencari-cari jalan dan informasi.
Belum lagi, kemungkinan kami akan bunuh-bunuhan dalam diskusi untuk menentukan objek wisata yang harus dikunjungi terlebih dahulu.

By the way, kalau kalian datang dengan doku yang pas-pas-an, jangan coba-coba beli Batu Satam nya. Karena sangat mahal.
Batu yang besarnya lebih kecil dari botol air mineral harganya bisa mencapai Rp 1.500.000,00.
Tetap mau beli juga??? Terserah sih!

Then,

Travelling kami benar-benar memuaskan. Karena kami sudah coba banyak spot, snorkeling, visit pulau-pulau bagus, kuliner termasuk tempat jajan dan ngopi.
Tidak seperti Bali, Pulau Belitung tidak terlalu ramai dan objek wisatanya juga tidak begitu banyak (mungkin belum di-observasi seluruhnya).
Perlu cari-cari informasi terlebih dahulu kalau mau jalan-jalan ke Belitung.

Dengan waktu yang hanya 3D2N, kami segera mengujungi tempat syuting film Laskar Pelangi.
Ya, di pulau ini lah film Laskar Pelangi dibuat.
Sepertinya 'Laskar Pelangi' dan Andrea Hirata sudah menjadi Ikon di pulau ini.
di Pulau ini pun terdapat museum kreatif karya Andrea Hirata sang Penulis inspiratif Indonesia.

Selain itu, masih banyak tempat yang kami hampiri.

Bagi kawan-kawan yang mau mencoba jalan-jalan ke Belitung, silahkan dicoba, elu pade gak bakal nyesel!
Pantai di sekitar Belitung ini memang terlihat banyak batu-batu besar. Pasirnya lembut. Air lautnya hijau dari jauh dan bening dari dekat. Tidak ada kemacetan di Belitung.
Makanan di Belitung juga terbilang affordable.
Laut, pantai, batu dan awannya sangat sangat sangat bagus! Saya berusaha tidak lebay di sini.

Saran saya gunakan paket tour kalau main-main ke Belitung, kecuali sudah hafal daerah Pak Ahok ini.

Mengenai Paket Tour yang bisa diandalkan, bisa cari sendiri di Google.
Kenapa demikian?
Karena selain saya lupa nama Tour Travelnya, pun blog ini bukan tempat promosi.

Next,
biarkanlah gambar yang bercerita tentang bagaimana para expert Orekel berlibur.

ENJOY!











Mercusuar di Pulau Lengkuas

Dari Pulau Lengkuas


The Consultant


Selasa, 07 Oktober 2014

Waktu Itu di Dieng, Wonosobo

Waktu itu,
Saya tidak bisa berjanji ikut ke Wonosobo.
Saya tidak bisa berangkat di hari pertama.
Saya berburu motor dan berburu promo.
Saya masih ragu-ragu untuk ikut serta.



Waktu itu,
Akhirnya pagi-pagi ku bersamanya memilih tiket murah.
Dihadapkan dengan calo-calo yang penuh pemalsuan kata.
Masih bertanya-tanya, "Berangkat kah kita?"
Hilangkan curiga, akhirnya kami tinggalkan Jakarta.



Waktu itu,
Perjalanan terasa tidak berkesudahan.
Menikmati makanan di setiap pemberhentian.
Khawatir akan tertahan lama di jalan.
Kami berangkat di hari setelah Lebaran.



Waktu itu,
Kami sampai di Terminal Wonosobo di terik hari.
Badan letih tapi rasa senang dan tenang di hati.
Udara terasa lebih segar  di sini.
Ku bertualang kini ada yang menemani.



Waktu itu,
Beruntung dan bersyukur kami setiap hari
Disuguhi makan dan minum dari pagi hingga malam hari
Dipinjami kendaraan untuk kami mendaki
Menginap dan merepotkan si Mbah, kami tidak enak hati.


Waktu itu,
Dinginnya Dieng menusuk tulang.
Hampir saya percaya bahwa kami akan menginap di gudang.
Setiap kali sampai di tujuan pasti ada saat kami semua terpisah.
Tantangan jalan yang luar biasa padat bikin pasrah.




Waktu itu,
Semua kami memaksakan diri untuk terbangun jam tiga.
Kami ke puncak Sikunir dengan ribuan manusia lainnya.
Berbaris memancang demi melihat mentari muncul di timur dunia.
Dieng, Negeri di Atas Awan, tempat kami bersama-sama terpesona.



Waktu itu,
Mentari benar-benar sudah di atas kepala.
Terik sinarnya sudah mulai menusuk raga.
Tapi tetap kami bisa menikmati segarnya udara.
Kami masih siap untuk menikmati keindahan lainnya.



Waktu itu,
Kami kembali dari Dieng ke Wonosobo dengan raga letih.
Terasa perjalanan sangat panjang tidak ada akhirnya.
Jalanan yang sangat padat seolah siap membunuh dengan keji.
Tapi kami lega bisa diayomi oleh keluarga besar yang sederhana dan baik hati.



Waktu itu,
Saya sulit percaya bahwa masih ada orang baik di dunia.
Tapi ternyata perbedaan keyakinan bukan menjadi kuncinya.
Sebuah keluarga besar yang sederhana menunjukkan kasih yang luar biasa.
Kami disambut dan diantarkan dengan sangat hangat dan ramah


Waktu itu,
Kami berencana menyudahi liburan dingin kami.
Realita Jakarta sudah menanti dengan pasti.
Tragisnya jalanan karena jembatan Comal runtuh.
Tiga puluh jam di jalan pulang terpaksa harus kami tempuh.

~~~





Demikian sebuah cerita yang waktu itu kami rasakan.
Yang waktu itu kami dari Jakarta ke Wonosobo, Wonosobo ke Dieng, hingga kembali pulang
Yang waktu itu kami menelusuri Telaga Warna, Puncak Sikunir, Candi Arjuna, Kawah Sikidang.
Yang waktu itu disiksa di perjalanan menuju kota Jakarta kami pulang
Yang waktu itu menjalani perjalanan meradang di jalan 30 jam yang panjang.

Yang pasti, waktu itu, kami punya cerita. Cerita untuk diceritakan nanti.



Thanx to:
- Itok Dewa, karena ada itok kita jadi bisa nginap, dimanjain dan dikasi makan sama si Mbah dan keluarga. Mereka semua baik banget.
- Ibu yang punya penginapan di Dieng, karena di dinginnya malam ini kami masih bisa dapat tempat untuk tidur.
- Konco-konco, cucunya Mbah, adiknya Dewak, dan mas nya Dewak karena sudah mau menemani, dan sudah mendengarkan celotehan yang tidak penting dari anak badung kayak saya.
- Thanx to Ocha karena udah nemenin.
- Bang Arman, Ferdi, NatNat, karena sudah ada kesempatan jalan-jalan bareng.